Telat Parahku
Hei!!! Udah lama nih nggak nulis, kangen ya? Euhhh kepedean tingkat dewa. Tapi jujur saya lagi kangen sekolah :D eaakkk... Udah free, UN dah selesai alhamdulillah lancar, nggak ada halangan, nahh buat yang ada halangan tetap semangat gaess!!!
Oke, disini saya bakal cerita tentang telat parahku (lebih condong ke curhat sih, daripada cerita). Parah..parah..parah ada 3 kali aku telat parah, tapi saya cuma mau cerita satu aja dan saya harap saya tidak akan mengulanginya, aamiin Ya Allah. Ya, meskipun aku sering telat, atau bisa dibilang selalu.
Telat parah? Iya, jadi telat banget nget nget nget... biasanya kan ya telat 1 menit, 2, 3, 6, 8, bahkan 10 menit, nah ini lebih dari itu...Apaan sih, Luk? Ada pokoknya. Yuk, mari kita simak.
Oke, disini saya bakal cerita tentang telat parahku (lebih condong ke curhat sih, daripada cerita). Parah..parah..parah ada 3 kali aku telat parah, tapi saya cuma mau cerita satu aja dan saya harap saya tidak akan mengulanginya, aamiin Ya Allah. Ya, meskipun aku sering telat, atau bisa dibilang selalu.
Telat parah? Iya, jadi telat banget nget nget nget... biasanya kan ya telat 1 menit, 2, 3, 6, 8, bahkan 10 menit, nah ini lebih dari itu...Apaan sih, Luk? Ada pokoknya. Yuk, mari kita simak.
At the Day
Hari ini hari Selasa, aku memakai baju olahraga kerudung biru. Aku masih berdiri menunggu angkot di pinggir jalan menenteng spon ati. Udah cukup lama, tapi nggak lewat-lewat. Hari ini ada jam ke-0, yang artinya pukul 06.30 kita harus di sekolah untuk mendapat tambahan pelajaran. Kebetulan hari ini Bahasa Inggris oleh Bu Astuti. Setelah kurasa cukup lama menunggu dan sepertinya nggak ada angkot, aku pun berbalik badan dan kembali ke rumah untuk diantar oleh ayahanda :D. Namun, ketika aku melihat jam, 06.25. Apaa?!!Tinggal 5 menit?? Ayahku bergegas untuk mengantarku, di perjalanan, aku memegang jam tanganku melihat setiap detiknya berharap ini akan baik-baik saja sembari menahan air mata agar tak jatuh, tapi sia-sia. Aku berkata dalam hati,
"Aduh, gimana yak? Aishh...udah jam segini, aduh..."
"Oke, nggak papa, santai, oke"👌sambil menarik napas panjang lalu menghembuskannya
"Ntar kalo malah disuruh keluar gimana ya?!! T^T
"Ya Allah, help me!! kulihat jam
"Sekarang udah jam 06.30, dari rumah jam 06.25, butuh waktu 25 menit dari rumah ke sekolah, berarti sampai sana jam 06.45. Jadi, aku telat 15 menit T^T, dan keknya nggak ada ampunan lagi dah sama Ibu Astuti."
"Luk, ada dua pilihan. Pilihan pertama menghadapi Bu Astuti yang udah mesti disuruh ke BP, itu kalo iya, kalo nggak boleh ikut pelajaran, dinasehati, dimarahi, yang otomatis satu kelas kena semua dan itu gara-gara Luluk Fitriani telat. Kalau telat 5 menit itu bisa diampuni, lah ini? 15 menit, mana jam kelas kelebihan 5 menit. Jadi, aku telat 20 menit. T-T"
"Pilihan kedua. Bolos! What!?!! Tapi itu mustahil, yakin, Luk? Nggak aku nggak akan senekad itu. Ini tuh 2018, bukan 1990. Berarti aku ngumpet! Tapi dimana? UKS, Euhh kalau ada yang lagi piket gimana? Jangan di UKS. Di lantai 3? Arrghh keknya jangan deh, di kamtin? Lha ntar kalo udah bel jam pertama gimana? Masa iyaa di kantin, bisa ketahuan. Terus dimana? Di musala? Ntar tasnya ditaaruh dimana? Kalo pagi kan guru-guru pada shalat Dhuha. Di kamar mandi? Nahh!! Disini aman! Tapi tasnya?"
Udah fix di kamar mandi, itu kurencanakan dalaam perjalanan sampai di lampu merah kolam renang Arta Tirta.
"Soal tas, ditaruh di bawah kursi panjang dekat pintu (bangku panjang belakang kelas," Itu rencananya.
Setelah mengusap wajah, akhirnya sampai di depan sekolah, aku turun, cium tangan dan salam, aku berjalan setenang mungkin, dan sekilas menengok ke kelasku, pada anteng, pasti ada guru, padahal dari tadi aku berharap Bu Astuti ada keperluan :D. Aku berjalan dan terlihat ada Ibu Iis, guru matematika stay di gerbang bersama OSIS kelas 8, aku menunduk biar nggak kelihatan kayak anak kelas 9. Berhasil! Aku berjalan menuju gerbang barat, pikiranku melayang kemana-mana. Setelah beberapa langkah dari gerbang aku menangkap Ibu Nurindayati yang sedang menulis sesuatu di papan tulis di kelas 9D, kupercepat langkahku hingga hampir menuju kelas 9E nah, disini aku lihat Delput, yang juga melihatku, spontan kulihat dia ngobrol apa gitu ampe beberapa orang menoleh ke arahku. Perasaanku+pendengaranku berkata Dela bilang,
"Luluk! Edan mangkate jam semene jall! Ajek gelut kae bocah." kurang lebih gitu ke Fira apa ya? Lupa aku, nggak jelas soalnya.
Aku pun segera mempercepat langkahku hingga sampai di depan kelas 9F (ini depan, samping apa belakang yak? Entahlah, bingung saya). Sampai disini saya belok ke kiri, menuju tangga kecil, waktu kaki kanan mau napak, segera pikiranku berkata,
"Jangan lewat sini, lewat TU aja! Tadi Bu Nur di 9D," Akhirnya belum sempet napak langsung balik badan, disini ada 2 anak yang berjalan, dari tatapannya mungkin dalam hati gini, "Ini mbaknya ngapain? Salah kelas?" tau dahh
Aku berjalan lewat depan kantor guru, depan perpus dan waktu mau belok ke (ruang UNBK) TU aku lihat kalo tasku ditaruh disana kelihatan dari sudut pandang orang yang berjalan dari UNBK maupun dari TU. Akhirnya sebelum bener-bener belok aku meluruskan langkah, berjalan lurus dan meluhat Ibu Ida yang tergesa-gesa setelah turun dari motornya. Aku jalan kek mau ke kelas 7B, aku langsung balik badan lagi setelah kepikiran. Kantin, aku bisa stay disini sampai jam pertama bunyi, terus ke kamar mandi, nunggu ampe nyanyi lagu Indonesia Raya, terus keluar dan masuk kelas.
Kulihat jam, 10 menit lagi, aku duduk di kursi kantin Bu Min sembari meminum Good Day Coolin anget, rasanya... enak kalo es, tapi tadi aku pesen yang anget aja, masih pagi soalnya. Masih dengan tas yang ada di punggung dan spon ati yang masih kubawa-bawa sedari tadi. Spon ati buat bikin robot.
Tak lama, ada beberapa adik kelas yang datang, tersenyum, ahh semoga mereka nggak tahu kalau aku kelas 9. T^T. Mereka membeli lalu membayar dan kembali ke kelasnya karena ini hampir bel. Kulihat jam tanganku, 5 menit lagi, melihat itu, Bu Min bertanya, "Nunggu apa?"
Kujawab, "Nunggu bel bu,,"
"Oh, kok nggak ke kelas to?" Aku hanya senyum menampakkan keceriaan, ya biasanya gitu, kalo bingung mau jawab apa, saya jawab pake senyum, dan biasanya ya udah, itu tok.
Bel yang kutunggu berbunyi, setelah membeli nabati, aku pun berjalan meninggalkan kantin, "makasih ya, bu," ucapku dan segera melesat menuju kamar mandi. 0_+
Aku berjalan lalu berpapasan dengan adik kelas, kupercepat langkahku biar kek buru-buru. Masuk ke WC paling terang, sebelah kanan kaca. Kukunci, tasku ku cantelkan (bahasa bakunya apa ya? Tau dah). Berdiri, mencoba untuk tidak bersandar pada tembok, untung nggak bau :v.
Kulihat jam tanganku lagi, masih lama, 15 menit lagi. Aku berdiri, sendirian, bimbang kenapa aku senekad ini, bimbang dengan keputusanku, takut dengan risikonya. Arrrgghhh, entahlah, yang jelas, aku nggak mau kena marah, nggak mau ke BP, nggak mau buat guru marah ke aku, ralat:ke kelasku terutama aku. Apalagi jika masalah ini disebarkan ke Wali Kelasku, Ibu Nur apalagi kantor, "Ini ada yang telat 20 menit, blablablaba..." jadi apa saya :v jadi, nggak papa, mungkin ini udah takdir, nakal dikit gapapa lah, buat pengalaman aja, tapi nggak boleh diulangi (kecuali kalau kepepet:D) Niat banget ya, Luk!
Setelah sedari tadi berdiri melihat jam tangan, sesekali menghentakkan kaki karena pegal berdiri. Terdengar, "Mari, kita mempersiapkan diri untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya stansa satu. Sikap berdiri."
Yeah, itu terdengar jelas, suara bariton (haha sebenernya saya nggak ngerti juga sih..) yang terdengar jelas dari speaker. Irama di 30an speaker di tiap-tiap ruang menyatu, kecuali di beberapa ruang, termasuk kamar mandi. Aku termenung, mencoba untuk lipsing, Lagu mulai terdengar samar memang, namun itu malah membuatku merinding, entahlah, biasanya juga gitu kalau menghayati, atau mungkin nadanya yang emang bisa buat merinding (Ibu Susi juga berkata seperti ini), atau mungkin karena tindakanku sendiri. Intinya, jleb...banget untuk seorang siswi SMP pinggir jalan (fakta) tidak mengikuti jam ke-0 lalu bersembunyi di kamar mandi karena telat dan takut membuat masalah. Euhhh..
Waktu itu aku membayangkan semua orang yang dengan tegapnya bernyanyi dengan sepenuh jiwanya, membayangkan kursiku yanfg kosong dan Wiwik sesekali menengok kursi itu, bertanya, "Luk, kok nggak berangkat nape?", membayangkan aku berada di sudut pandang atas. Disini, aku diam membisu, bak patung yang terjebak di dasar laut, membayangkan sewaktu di absen, "Luluk Fitriani kenapa?", "sakit?" sebenarnya tidak juga, "izin?" enggak juga, aku nggak minta izin buat nongkrong di tempat strategis ini, "telat?" ya aku telat, tapi aku tidak masuk kelas, apakah aku bisa dinamakan telat, "bolos sekolah atau alpa?" enggak juga, buktinya aku masuk sekolah. "Lalu apa?". Aku bolos kelas jam ke-0. Udah, intinya itu. Entah aku dianggap ada atau tidak hari itu. Ah entahlah, memikirkan kondisiku sekarang saja sudah pusing, apalagi mikir yang lain, pecah dah kepala saya (jangan diaamiinin ya!)
Oke, setelah nyenyongnya (bhs.Nita) selesai, aku masih menunggu beberapa menit lagi. Dari sini, terdengar suara derap kaki melangkah. Dan kurasa itu belasan siswa yang membuat keramaian di musala, "Ahh, iya sebelum mapel OR biasanya salat Dhuha dulu di musala." Aduh, cobaan apalagi ini Ya Allah... Sekarang pertanyaannya gimana saya keluar? Ya, musala sekolah terletak di samping kamar mandi dengan tempat wudu yang bener-bener umum dan terbuka tanpa sekat untuk membatasi yang cewek sama cowok-_- (Oh ya, waktu itu pernah ada tamu apa gitu dari Demak kalau nggak salah, nahh abis wudu itu ada mbak apa ibu ya rombongan itu mau wudu, terus tanya ke saya, "Emm, mbak ini tempat wudunya emang terbuka kayak gini ya?" tanyanya terlihat sopan sembari menengok sekitar, kuhawab dengan mengambang, "Eh, iya" Nahhh, tapi sekarang udah dibangun lagi sih, khusus cewek, tapi masih dipertanyakan soalnya itu adalah bangsal, entahlah, waktu itu udah hampir lancar, tapi sekarang direnov lagi. Dan kita, balik lagi... (nah curcol again)
Back to the story>>>
Setelah bingung dan berpikir, sampai kapan disini? hah? Luk? Kamu takut keluar hah? Apa nunggu lagi hah, yakin? Diruangan ukuran 1x1meter ini? Keluar sekarang, nggak papa, mereka nggak gigit kok! Siapa juga yang bilang? Kamu malu? Ya iyalahh! Aduh, Luk cuma keluar aja kek angin git
u susah amat! Tap..tapi...I feel how they will think about me? Just NOW OR NEVER!! Oke dah, bodo amat mereka mau bilang apa, toh saya nggak kenal dan mereka nggak kenal..:D (ada positifnya juga ya).
Aku dengan sedikit ragu, memegang tasku dan spon ati, membuka pintu, sejenak aku berdiri di depan cermin, aku menatap seseorang lekat-lekat. Ia tersenyum hendak berkata, "Kamu berubah banyak, Luk, It will be okay! Fighting!" Ia masih tersenyum menunjukkan kepedeannya kepada dunia. *ralat, kepada cermin. Ya, dia adalah LF.
Aku berjalan keluar, banyak siswa-siswi kelas tujuh. Aku berjalan. Yang tadinya ramai, kini senyap, bersamaan dengan saya yang berjalan diantara mereka. Kanan-kiri oke! Aku sedikit menambah kecepatan, bodo amat, bodo amat dahhh nasib udah jadi bubur. Hah?! Nasi keknya deh Luk. Oh, iya ding, nasi sudah jadi bubur.
Nahh, setelah itu aku menuju lorong ke TU, tapi, waktu mau belok kiri dari parkiran itu, aku menangkap sosok Ibu Astuti ysng sedang bebincang sejenak, di meja depan, membawa tas bentar lagi akan berkata, see you. Aku pun yang tadinya udah melangkah akan belok langsung melangkah lurus, melewati belakang kelas 9G. Sampai diepan kelas 7C, aku mendelik ke kelas, keknya Bu Astuti dah keluar.
Aku berlari menyeberangi bangsal, namun kurang lima meter Ibu Kusnaeni selaku Kepala SMP ku keluar dari ruang TU. Reflek aku balik badan sembari mendekap tasku, berjalan ke arah timur, menyembunyikan tas, mencoba mengatur napas yang ngos-ngosan, berjalan sesantai mungkin kek aku kelas 9B. Setelah hampir sampai dekat pintu aku menoleh dan Beliau telah pergi, tanpa tunggu aba-aba aku balik badan dan lari ke kelas. Sampai pintu aku hanya bersimpuh, tersenyum kek psikopat dan tertawa, feel like MISSION COMPLETED!!
Sampe sini dulu ya, amanatnya nunggu batre penuh, ini aja ngoyo sambil nge-cas. Kangen bgt dahh... sama nih blog, nggak diurus ampe karatan. :D
(Ceritanya batre dah penuh nih...)
Amanat :
Setelah sedari tadi berdiri melihat jam tangan, sesekali menghentakkan kaki karena pegal berdiri. Terdengar, "Mari, kita mempersiapkan diri untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya stansa satu. Sikap berdiri."
Yeah, itu terdengar jelas, suara bariton (haha sebenernya saya nggak ngerti juga sih..) yang terdengar jelas dari speaker. Irama di 30an speaker di tiap-tiap ruang menyatu, kecuali di beberapa ruang, termasuk kamar mandi. Aku termenung, mencoba untuk lipsing, Lagu mulai terdengar samar memang, namun itu malah membuatku merinding, entahlah, biasanya juga gitu kalau menghayati, atau mungkin nadanya yang emang bisa buat merinding (Ibu Susi juga berkata seperti ini), atau mungkin karena tindakanku sendiri. Intinya, jleb...banget untuk seorang siswi SMP pinggir jalan (fakta) tidak mengikuti jam ke-0 lalu bersembunyi di kamar mandi karena telat dan takut membuat masalah. Euhhh..
Waktu itu aku membayangkan semua orang yang dengan tegapnya bernyanyi dengan sepenuh jiwanya, membayangkan kursiku yanfg kosong dan Wiwik sesekali menengok kursi itu, bertanya, "Luk, kok nggak berangkat nape?", membayangkan aku berada di sudut pandang atas. Disini, aku diam membisu, bak patung yang terjebak di dasar laut, membayangkan sewaktu di absen, "Luluk Fitriani kenapa?", "sakit?" sebenarnya tidak juga, "izin?" enggak juga, aku nggak minta izin buat nongkrong di tempat strategis ini, "telat?" ya aku telat, tapi aku tidak masuk kelas, apakah aku bisa dinamakan telat, "bolos sekolah atau alpa?" enggak juga, buktinya aku masuk sekolah. "Lalu apa?". Aku bolos kelas jam ke-0. Udah, intinya itu. Entah aku dianggap ada atau tidak hari itu. Ah entahlah, memikirkan kondisiku sekarang saja sudah pusing, apalagi mikir yang lain, pecah dah kepala saya (jangan diaamiinin ya!)
Oke, setelah nyenyongnya (bhs.Nita) selesai, aku masih menunggu beberapa menit lagi. Dari sini, terdengar suara derap kaki melangkah. Dan kurasa itu belasan siswa yang membuat keramaian di musala, "Ahh, iya sebelum mapel OR biasanya salat Dhuha dulu di musala." Aduh, cobaan apalagi ini Ya Allah... Sekarang pertanyaannya gimana saya keluar? Ya, musala sekolah terletak di samping kamar mandi dengan tempat wudu yang bener-bener umum dan terbuka tanpa sekat untuk membatasi yang cewek sama cowok-_- (Oh ya, waktu itu pernah ada tamu apa gitu dari Demak kalau nggak salah, nahh abis wudu itu ada mbak apa ibu ya rombongan itu mau wudu, terus tanya ke saya, "Emm, mbak ini tempat wudunya emang terbuka kayak gini ya?" tanyanya terlihat sopan sembari menengok sekitar, kuhawab dengan mengambang, "Eh, iya" Nahhh, tapi sekarang udah dibangun lagi sih, khusus cewek, tapi masih dipertanyakan soalnya itu adalah bangsal, entahlah, waktu itu udah hampir lancar, tapi sekarang direnov lagi. Dan kita, balik lagi... (nah curcol again)
Back to the story>>>
Setelah bingung dan berpikir, sampai kapan disini? hah? Luk? Kamu takut keluar hah? Apa nunggu lagi hah, yakin? Diruangan ukuran 1x1meter ini? Keluar sekarang, nggak papa, mereka nggak gigit kok! Siapa juga yang bilang? Kamu malu? Ya iyalahh! Aduh, Luk cuma keluar aja kek angin git
u susah amat! Tap..tapi...I feel how they will think about me? Just NOW OR NEVER!! Oke dah, bodo amat mereka mau bilang apa, toh saya nggak kenal dan mereka nggak kenal..:D (ada positifnya juga ya).
Aku dengan sedikit ragu, memegang tasku dan spon ati, membuka pintu, sejenak aku berdiri di depan cermin, aku menatap seseorang lekat-lekat. Ia tersenyum hendak berkata, "Kamu berubah banyak, Luk, It will be okay! Fighting!" Ia masih tersenyum menunjukkan kepedeannya kepada dunia. *ralat, kepada cermin. Ya, dia adalah LF.
Aku berjalan keluar, banyak siswa-siswi kelas tujuh. Aku berjalan. Yang tadinya ramai, kini senyap, bersamaan dengan saya yang berjalan diantara mereka. Kanan-kiri oke! Aku sedikit menambah kecepatan, bodo amat, bodo amat dahhh nasib udah jadi bubur. Hah?! Nasi keknya deh Luk. Oh, iya ding, nasi sudah jadi bubur.
Nahh, setelah itu aku menuju lorong ke TU, tapi, waktu mau belok kiri dari parkiran itu, aku menangkap sosok Ibu Astuti ysng sedang bebincang sejenak, di meja depan, membawa tas bentar lagi akan berkata, see you. Aku pun yang tadinya udah melangkah akan belok langsung melangkah lurus, melewati belakang kelas 9G. Sampai diepan kelas 7C, aku mendelik ke kelas, keknya Bu Astuti dah keluar.
Aku berlari menyeberangi bangsal, namun kurang lima meter Ibu Kusnaeni selaku Kepala SMP ku keluar dari ruang TU. Reflek aku balik badan sembari mendekap tasku, berjalan ke arah timur, menyembunyikan tas, mencoba mengatur napas yang ngos-ngosan, berjalan sesantai mungkin kek aku kelas 9B. Setelah hampir sampai dekat pintu aku menoleh dan Beliau telah pergi, tanpa tunggu aba-aba aku balik badan dan lari ke kelas. Sampai pintu aku hanya bersimpuh, tersenyum kek psikopat dan tertawa, feel like MISSION COMPLETED!!
Sampe sini dulu ya, amanatnya nunggu batre penuh, ini aja ngoyo sambil nge-cas. Kangen bgt dahh... sama nih blog, nggak diurus ampe karatan. :D
(Ceritanya batre dah penuh nih...)
Amanat :
Udah baca? Dong nggak ya am ceritanya? Kayaknya nggak deh...0_+
Kadang kita bertemu dengan situasi sulit dan kita harus menghadapinya, memilih sebuah pilihan dengan risikonya masing" yang harus kita tanggung. Ini bukan tentang saya yang, "Oh, udah ngerasa pinter gitu ya? Jadi telat jam ke-0, nggak ikut jam ke-0," Bukan itu, udah pinter? Arrgghhh... aku bukan apa-apa dibandingkan yang lain... "Oh, udah ngerasa bisa, ya?" Bukan itu, aku bahkan sangat-sangat nggak bisa apa yang saya bisa? Makan dan tidur dll... "Oh, udah ngerasa nggak perlu jam ke-0 ya?" Aishh... aku sangat butuh itu, intinya bukan tentang itu!! Ini tentang kenapa aku tak mau menghadapi masalah? Kenapa aku lari? Kenapa aku takut? Kenapa aku malah menghindar? Kenapa aku tak mengadapinya saja? Arrgghh...
Anda bisa menganggap saya pengecut, ya mungkin benar, karena faktanya saya tak bisa mengelaknya. Tapi, entahlah, saat itu aku memilih untuk lari, daripada menghadapinya... dan risikonya, saya harus kehilangan waktu berharga itu...
Pesan saya, hargai waktu, sekalipun waktu tak pernah menghargai dirimu, karena ia tak berwujud dan bernyawa, yang tak mengerti apa itu sebuah kehidupan.
Maaf Pak, Bu Guru bukan maksud saya untuk melakukannya, sekali lagi maaf,
Maaf aku belum bisa menepati Dasa Darma, terutama Dasa Darma ke-8 kata pertama,
Maaf kawan sekelas, aku, yang sering telat harus berada di kelas ini,
Maaf untuk keluargaku, aku belum bisa betubah menjadi disiplin,
Maaf Janji Siswa yang telah kuucapkan disetiap upacara, aku, Luluk Fitriani belum bisa menepatinya
Maaf untuk orang tua saya, maaf belum bisa jadi anak yang baik (Padahal udah sering naik bike, tapi belum bisa jadi anak bike-bike)
Maaf untuk para pembaca, saya hanya curhat aja, maaf jika setelah membaca postingan" saya, anda menyesal, "Nyesel gua buka nih blog, useless banget" Maaf, tapi saya hanya ingin menulis, hanya itu, semoga tak ada peraturan baru tentang larangan menulis curhat.
Kadang kita bertemu dengan situasi sulit dan kita harus menghadapinya, memilih sebuah pilihan dengan risikonya masing" yang harus kita tanggung. Ini bukan tentang saya yang, "Oh, udah ngerasa pinter gitu ya? Jadi telat jam ke-0, nggak ikut jam ke-0," Bukan itu, udah pinter? Arrgghhh... aku bukan apa-apa dibandingkan yang lain... "Oh, udah ngerasa bisa, ya?" Bukan itu, aku bahkan sangat-sangat nggak bisa apa yang saya bisa? Makan dan tidur dll... "Oh, udah ngerasa nggak perlu jam ke-0 ya?" Aishh... aku sangat butuh itu, intinya bukan tentang itu!! Ini tentang kenapa aku tak mau menghadapi masalah? Kenapa aku lari? Kenapa aku takut? Kenapa aku malah menghindar? Kenapa aku tak mengadapinya saja? Arrgghh...
Anda bisa menganggap saya pengecut, ya mungkin benar, karena faktanya saya tak bisa mengelaknya. Tapi, entahlah, saat itu aku memilih untuk lari, daripada menghadapinya... dan risikonya, saya harus kehilangan waktu berharga itu...
Pesan saya, hargai waktu, sekalipun waktu tak pernah menghargai dirimu, karena ia tak berwujud dan bernyawa, yang tak mengerti apa itu sebuah kehidupan.
Maaf Pak, Bu Guru bukan maksud saya untuk melakukannya, sekali lagi maaf,
Maaf aku belum bisa menepati Dasa Darma, terutama Dasa Darma ke-8 kata pertama,
Maaf kawan sekelas, aku, yang sering telat harus berada di kelas ini,
Maaf untuk keluargaku, aku belum bisa betubah menjadi disiplin,
Maaf Janji Siswa yang telah kuucapkan disetiap upacara, aku, Luluk Fitriani belum bisa menepatinya
Maaf untuk orang tua saya, maaf belum bisa jadi anak yang baik (Padahal udah sering naik bike, tapi belum bisa jadi anak bike-bike)
Maaf untuk para pembaca, saya hanya curhat aja, maaf jika setelah membaca postingan" saya, anda menyesal, "Nyesel gua buka nih blog, useless banget" Maaf, tapi saya hanya ingin menulis, hanya itu, semoga tak ada peraturan baru tentang larangan menulis curhat.
Sekian, May Peace Be Upon You For Whoever You Are... Just Smile, and everything will be alright at the end, if it's not alright, it's not the end...

コメント
コメントを投稿