About 86.400

"Berubah, Luk. Plisss."
Peringatan! Postingan ini tidak memiliki kejelasan, harap maklum.


Oke, jadi... jadi...

Mohon maaf lahir dan batin, kawan.

"Luk?"
"Yap? Kenapa?"
"Udah kelar puasanya? Udah lebaran ceritanya? Apa buat kalender sendiri?"
"Ya, kan... Minta maaf nggak harus saat lebaran. Kamu tahu kenapa?"
"?"
"Karena... uwe kebanyakan dosa dan kesalahan. Dan belum tentu saya bisa minta maaf ke satu-persatu orang."
"Stop! Udah paham saya, Nak. Jadi daripada kebanyakan gaje  (duh tadinya kepikiran 'kebanyakan micin' lalu inget cilor jadi pingin) cukup sampai di sini. Karena akan ada gaje kuadrat yang lain."

Ya, karena tidak tahu apa yang akan saya lakukan, berakhir pada pilihan ini, lagi.

-------------------------------------------------------

Luk, jika kamu berpikir bahwa:

waktu bisa diulang, maaf kamu harusnya tahu, kamu hidup di sini, di bumi, bukan di negeri khayalan;

waktu berputar mengelilingimu, maaf, kamu tidak lebih kuat dari matahari;

jika waktu bisa saja kau CTRL-Z, maaf, waktu bukan bagian dari sistem yang bisa kau atur, apalagi dengan jalan pintas;

jika bagimu waktu bisa dijeda, maaf, paus saja mungkin mengerti bahwa waktu akan terus berlalu, tanpa jeda;

jika bagimu waktu bisa kau perhitungkan, maaf, waktu terlalu sibuk untuk menunggu perhitungan-perhitungan anehmu itu;

jika bagimu waktu tak bernilai apa-apa, lalu bagaimana nasib seseorang yang hampir tenggelam di lautan, cukup satu detik untuk meraih tangan mereka, menyelamatkan nyawa.

Kadang memang kau menemukan banyak alasan, entah itu memang nyata atau nyata yang dilebih-lebihkan. Bagaimana tentang mereka, yang lebih jauh, mereka lebih hebat untuk mengatur waktu, tidak seperti dirimu yang ketika melihat jam dinding selalu bertanya-tanya,

"Kenapa waktu terasa begitu cepat bagi saya?"

Padahal faktanya waktu akan selalu sama, hanya saja kau yang terlalu lamban.

Memang benar bahwa banyak hal yang tidak terduga, datang tanpa tanda, itulah kuasa. Namun, selalu saja hatimu itu, berkata lagi,

"Hari ini tidak akan ada hal buruk yang terjadi."

Lalu hal tak terduga itu muncul, kau menyesalkan sesuatu, tentang waktu. Akan tetapi, hari berikutnya, masih tetap sama, mencoba meyakinkan semua akan baik-baik saja. Nyatanya tidak apa-apa. Seperti itu, hingga lupa poin pertama. Lalu menyesal lagi. Sampai kapan kau akan seperti ini? Sampai kapan?

Berubahlah, Luk.

Kau telah menulis ini. Melalui perantara jari tanganmu. Menjadikan ini saksi, apa kau akan berubah?

Atau mungkin semua ini hanya sebatas kata-kata, menjadi frasa dalam kalimat yang akan berakhir tanpa makna.

Pernah berjanji bukan? Lalu ingat bahwa kau ingkar? Bukankah itu termasuk dalam tiga pertanda.

Berubahlah, Luk.

Kau berkata bahwa hidup ini sulit. Lalu kamu memandangi tulisanmu sendiri yang kau tulis kemarin,

 "Tidak ada hidup yang terlalu berat sampai tidak bisa dipermudah dengan cara kita menyikapinya."

Itu yang kau tulis, lalu bagaimana kau menyikapinya? Segala hal yang telah terjadi maupun yang akan terjadi? Itu semua tergantung padamu. Kau punya tanggung jawab sendiri dan maaf saja, bahu orang lain sudah penuh untuk menanggung masalah mereka. Itu berarti bahwa kau tidak bisa meminta mereka memikul masalahmu itu. Karena itu masalahmu, bukan mereka.

Hingga kini kau masih merasa serakah, berkata bahwa 24 jam terasa kurang. Haha, ayolah, jika masih berkata seperti itu, kupikir kau harusnya tidak membuang-buang waktu. Waktu jangan kau samakan dengan bumerang yang akan kembali.

Atau juga kau samakan dengan umur, yang akan bertambah, meski dalam pengertian lain ia berkurang.

Menunda.

Kau selalu saja menunda-nuda. Esoklah, nantilah, kapan-kapanlah, kalau sempatlah, ketika nyatanya akan ada esok-esok yang lain dan juga nanti-nanti yang lain, hingga waktu memberi tahu, bahwa kau tak lagi punya waktu. Lalu menyerah, pada akhirnya menyesal lagi, lagi, dan lagi.

Sampai kapan hidup dengan penuh penyesalan? Hingga yang terjadi adalah seperti melupakan penyesalan itu, tanpa makna, tanpa perubahan. Itu bukan penyesalan namanya, itu lupa yang disengaja agar hari-hari terasa bahagia, ketika yang kau dapatkan hanyalah penyesalan yang selalu dilupakan.

Berubahlah, Luk.

Kadang ada saat-saat tertentu dimana kau merenungkan sesuatu. Akan tetapi, pada akhirnya kau lupa pada poin pertama tentang apa yang ingin kau renungkan.

Hidupmu.

Jangan sia-siakan.

Hari kemarin adalah masa lalu. Tak apa, lupakan saja, tetapi ingatlah sebagai pembelajaran. Untuk apa? Untuk masa depan, yang pastinya akan datang karena satu detik yang akan datang merupakan rangkaian dari hal-hal yang akan datang. Lalu membahas tentang apa yang akan datang juga bergantung padamu.

Karena ini tentang mengubah atau diubah. Terubah atau berubah.

Namun setelah kau cermati lagi, ada hal yang lebih baik dilakukan bukan, diantara keempat kata itu?
Berubahlah, lebih baik.

Bukan hanya sekedar kata, jadikan ini berharga, berubahlah, karena kamu adalah manusia.


Sometimes, we got a bad day, but remember it just 'a bad day' not 'a bad life'.

Sometimes, we got a hard time, but the only thing that can heal the pain just about time. It can took a couple seconds, minutes, hours, months, years, or maybe it took almost of our time when we still alive.

But remember, that's all depends on you. It's up to all of us.

A l l   o f   u s .

コメント

このブログの人気の投稿

The Guide

Surviving